Sunday, June 10, 2018

Kebudayaan Yang Mempengaruhi Kriya Di Indonesia

Setelah itu kebudayaan Indonesia mendapat pengaruh kebudayaan India, kebutuhan akan artefak guna memenuhi kebutuhan hidup meningkat. Karena pengetahuan teknologi berkembang maka hasil seni kriya mulai bervariasi baik dalam teknik, bentuk maupun fungsi.
Kebudayaan Yang Mempengaruhi Kriya Di Indonesia
Periode tersebut dinamakan zaman klasik atau zaman Hindu Buda yang berlangsung dari abad ke VIII – X Masehi. Bukti-bukti peninggalan berupa prasasti yang banyak menyebut tentang pekerjaan yang digolongkan sebagai seni kriya, jenis-jenis kriya pada masa itu dapat digolongkan berdasarkan :
a. bahan pokok yang digunakan seperti bambu, kayu, tanah, batu, kain dan logam
b. barang-barang yang dihasilkan seperti : alat pertanian, alat-alat upacara, barang-barang perhiasan.

Jenis pekerjaan seperti disebutkan dalam naskah lontar Agama dan kepercayaan di Bali antara lain: undagi (tukang kayu), amahat (pemahat), katambaran (pande tembaga), dhatudhagda (pande emas). Dalam prasasti Mantyasih,prasasti Poh dari abad ke 9 Masehi, disebutkan beberapa kelompok profesi seuai dengan barang yang dikerjakan yaitu : tukang permata, tukang perhiasan emas. Arca sebagai produk kriya dibuat sebagai perwujudan dewa, maka pembuatannya harus memenuhi ketentuan keagamaan baik dari segi teknis maupun ikonografis. Contoh : tinggi 10 tala (yaitu 10 kali ukuran dari ujung dagu sampai pada batas dahi). Bahan arca tidak hanya terbuat dari bahan logam, istilah-istilah yang digunakan untuk membedakan bahan antara lain:
1. lepaja arca dari tanah liat
2. sikata arca dari pasir
3. sailaja arca dari bahan batu
4. darughatita arca dari kayu
5. pakaja arca dari logam
6. ratnaja arca dari permata
7. citraja arca berupa lukisan pada lembar kain
Dan lain sebagainya. 

Dalam masa lalu, kriya tidak hanya dibuat dari bahan logam. Beberapa istilah dalam prasasti menyebutkan pekerjaan kriya dari bahan bambu atau kayu adalah sebagai berikut :
Magawai kisi pembuat keranjang atau bakul
Magawai payung wlu pembuat payung sutra
Magawai rungki pembuat tenggok atau bakul
Manarub pembuat dekorasi dari bahan daun kelapa
Manganamanam pembuat barang anyaman
dan lain sebagainya.

Benda-benda peralatan untuk kebutuhan sehari-hari atau untuk peralatan upacara, khususnya milik kaum bangsawan atau kerajaan banyak mendapat sentuhan khusus, dihias sesuai dengan ekspresi yang ingin diwujudkan. Kaum bangsawan dan para raja menghias senjata perlengkapan hias sebagai simbol kebesaran dengan batu permata dan logam emas atau perak serta batu mulia. Ornamen hias yang berupa ragam hias flora, unsur-unsur geometris (segi empat-segi tiga-lingkaran dan lainnya) juga banyak disertakan untuk menghias peralatan upacara, peralatan dapur dan berbagai jenisperalatan kebutuhan hidup. Batu permata, berlian, mutiara dan batu mulia digunakan sebagai bahan penghias senjata kebesaran, perhiasan perlengkapan wanita maupun mahkota yang dikenakan oleh para Raja. Semua itu menunjukkan bahwa kriya telah berkembang sejak masa lalu sampai masa kini.

Potensi pengembangan kriya di Indonesia sangat memungkinkan untuk lebih berkembang, menurut Prof.Grant Hannan,dekan fakultas RMIT Australia, 2002 menulis bahwa ada kurang lebih 100.000 sampai dengan 200.000 industri kriya di Indonesia. Banyak jenis produk kriya dihasilkan oleh pengrajin dari berbagai daerah, pemasaran dilakukan tidak hanya melalui toko Craft di daerah wisata, tetapi juga merambah masuk ke departemen store atau Mall di kota-kota besar, Pasar Seni; bahkan kini juga ke Web internet. Berbagai ajang pameran kriya baik berskala besar atau kecil, contohnya pameran oleh Dekranas di dalam dan luar negeri. Kedutaan Besar Indonesia di berbagai negara juga aktif membantu, Pengusaha maupun Kriyawan berusaha keras mempromosikan hasil karya dengan desain-desain pilihan. Kekayaan akan keragaman seni dan budaya, ikut mengangkat nilai estetis tampilannya. Khusus untuk produk kriya kayu biasanya terkendala oleh masih agak tinggi kandungan kadar air. Indonesia beriklim tropis, sudah tentu memiliki kelembaban udara yang tinggi. 

Keadaan itu sangat berpengaruh terhadap bahan kayu yang digunakan, upaya yang dilakukan adalah mengkondisikan kayu sedemikian rupa sehingga kadar air yang terkandung di dalamnya maksimal hanya sebesar 9%. Grant Hannan menulis bahwa hasil kriya Indonesia sulit dipasarkan ke manca negara, produk yang berbahan kayu sulit bersaing dengan produk dari Cina, Muangtai dan negara lainnya. Produk kemudi mobil, gagang tongkat transmisi mobil, kemudi kapal layar dan lainnya banyak digunakan oleh berbagai negara. Namun produk furnitur secara umum di pasaran Eropa, Amerika kalah bersaing dengan beberapa negara penghasil lainnya. Permasalahan terbesar adalah biaya produksi yang tinggi, ketahanan terhadap perubahan cuaca yang cukup ekstrim ( di negara-negara 4 musim).

Produk kriya yang banyak dipasarkan sebagian besar merupakan replika produk kriya masa lampau, bahkan pengusaha asing banyak yang bergerak di lingkup bisnis ‘barang antik’. Sayangnya produk kriya kayu yang sudah langka dan termasuk yang dilindungi sebagai ‘aset kekayaan craft’ Indonesia, banyak yang mengalir ke luar negeri sebagai komoditi perdagangan. Jenis barang tersebut antara lain furnitur, elemen hias rumah, alat-alat upacara reliji/kepercayaan dan lain-lain.

Kehidupan perekonomian di beberapa daerah menjadi meningkat berkat memberdayakan sumber daya yang ada, contoh : Jepara dengan produk mebel dan ukirannya, Kotagede dengan produk perak, pulau Bali menghasilkan berbagai jenis produk dengan bahan baku yang berbeda-beda, suku Asmat Papua-Batak dengan patung primitif, Sulawei Selatan-Sumbawa dengan tenunannya,Pleret-Klampok-Singkawang dengan kriya keramiknya dan beberapa daerah lain dengan berbagai jenis produk khas kriyanya.

Kriya sebagai komoditi ekspor cukup bisa diandalkan selain produk migas, hasil yang diperoleh sangat besar sehingga dapat meningkatkan taraf perekonomian di beberapa daerah. Kekayaan seni dan budaya dari berbagai etnis yang berbeda,tersebar di ribuan pulau, bila dituangkan dan diwujudkan melalui benda-benda seni dan craft, akan tidak pernah habis gagasan yang dapat dimunculkan. Bahkan bila disertai dengan inovasi salah satunya menggabungkan dua atau tiga etnis yang berbeda akan menghasilkan puluhan atau ratusan, bahkan mungkin
ribuan bentuk benda kriya yang berbeda-beda.

Kriya sebagai sarana pemerataan kesejahteraan, dapat dicapai melalui proses kerja kolektif. Cara yang biasa ditempuh adalah melaksanakan proses produksi melaui pengerjaan penyelesaian dan pembuatan komponen, atau pembagian bidang pekerjaan. Contoh: produk jadi dibuatkan kemasannya oleh pihak lain. Bila skala pekerjaan sudah mencapai taraf ekspor, umumnya dalam suatu lingkungan industri kecil rumah tangga dilakukan dengan pembagian kerja pembuatan komponen yang berbeda dengan menerapkan satu standar ukuran yang tetap sesuai pola yang harus dikerjakan.

Jenis karya lain adalah karya kriya yang berupa karya ekspresi pribadi, dihasilkan melalui proses pembuatan yang dikerjakan oleh seniman berpengalaman. Di Papua , suku Asmat membuat patung bertema primitif adalah sebagai wujud persembahan atau pemujaan terhadap roh nenek moyang.Suku Toraja membuat patung kayu untuk upacara penguburan jasad yang dihormati. Perwujutan wajah dibuat diupayakan semirip mungkin dengan wajah jasad jenazahnya. Bahkan pemeluk agama Katolik, menggunakan patung figur Yesus dan Bunda Maria sebagai sarana ibadah. Wujud yang ditampilkan bahkan ada yang menganut figur etnis yang diyakini, umpama beberapa etnis berkulit hitam cenderung mewujutkan figur sesuai etnis yang mereka yakini. Suku Dayak penganut Hindu dinamisme, memuja arwah nenek moyang atau dewa melalui sarana patung wujud yang menyerupai figur sosok yang diangankan atau yang mengilhami pembuatnya. 

Di masa kini wujud ekspresi pribadi dituangkan oleh pembuatnya, apabila berupa furnitur akan mempertimbang eksklusivitas (karya tunggal), ergonomi, tampilan dan konstruksi. Karya elemen hias (untuk dekorasi) ruangan, yang diutamakan keunikan, estetika dan kesesuaian dengan proporsi ruangan.

APABILA MATERI ATAS BERMANFAAT SILAHKAN UNTUK MEMBAGIKANNYA, MUDAH MUDAHAN DAPAT BERMANFAAT

No comments:
Write komentar