Saturday, September 3, 2016

Sifat Dasar dan Perkembangan Kewirausahaan

Sifat Dasar dan Perkembangan Kewirausahaan
Siapakah yang disebut sebagai seorang pengusaha? Apakah yang dimaksud dengan kewirausahaan? Apakah proses kewirausahaan itu? Pertanyaan yang sering diajukan ini menunjukan perhatian nasional dan internasional yang semakin besar dalam bidang kewirausahaan dikalangan individu, para profesor dan mahasiswa, dan pejabat pemerintah. Tetapi, meski dengan seluruh perhatian belum ditemukan. Perkembangan teori kewirausahaan selaras dengan luasnya perkembangan di dalam istilah itu sendiri. Kata pengusaha (entrepreneur) berasal dari bahasa Prancis, dan jika diterjemahkan secara bahasa, berarti "diantara - pengambil" (between-taker) atau "menuju-di antara" (go-between).

Periode Awal
Contoh definisi paling awal dari pengusaha sebagai sebuah go-between adalah Marco Polo, yang mencoba untuk mengembangkan rute perdagangan hingga Timur Jauh. Sebagai seorang yang go-between, Marco Polo akan menandatangani kontrak dengan pemilik uang (pelapor adanya modal ventura saat ini) untuk menjual barangnya. Kontrak yang umum pada periode tersebut adalah memberikan pinjaman kepada pedagang-pengembara pada tingkat 22,5 persen, termasuk asuransi. Sementara si kapitalis menanggung resiko secara pasif, pedagang-pegembara mengambil peran yang aktif dalam perdagangan dengan menggunakan seluruh resiko fisik dan emosial. Ketika Pedagang-pengembara sukses dalam menjual dan menyelesaikan perjalanannya, keuntungan yang diperoleh akan dibagi, dimana sikapitalis akan mengambil bagian yang paling besar (sampai 75 persen), sementara si pedagang-pengembara akan menerima 25 persen sisanya.

Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan, istilah pengusaha sudah digunakan untuk menggambarkan pelaku maupun orang yang mengelola proyek-proyek produksi besar. Pada proyek-proyek seperti itu, orang-orang ini tidak mengambil resiko apa-apa, melainkan mengelola proyek dengan sumber daya yang disediakan, biasanya oleh pemerintah suatu negara. Satu jenis pengusaha pada abad pertengahan adalah klerek (clerec) orang yang ditugaskan untuk pekerjaan arsitektur, seperti kastil dan menara, gedung-gedung umum, dan katedral.

Abad ke-17
Munculnya kembali kaitan antara risiko dengan kewirausahaan berkembang pada abad ke-17, dimana pengusaha adalah orang yang menjalankan kerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan jasa atau produk yang ditentukan. Karena harga kontrak telah ditentukan, maka setiap laba atau rugi yang terjadi menjadi milik pengusaha. Salah satu pengusaha pada periode ini adalah John Law, asal Prancis, yang diizinkan untuk mendirikan sebuah bank kerajaan. Bank tersebut perusahaan dagang di dunia baru The Mississipi Company. Sayangnya, monopoli atas perdagangan Prancis ini mendorong kejatuhan Law ketika ia berusaha mendongkrak lebih tinggi harga saham perusahaan daripada nilai asetnya, yang kemudian beakibat pada kejatuhan perusahaan.

Richard Cantillon, seorang ekonom dan penulis pada tahun 1700-an, menyadari kesalahan Law. Cantillon mengembangkan satu dari teori awal tentang kewirausahaan dan dipandang sebagai salah satu penemu istilah tersebut. Ia melihat pengusaha sebagai seorang yang mengambil resiko, mengamati bahwa pedagang, petani, perajin, dan pemilik usaha perseorangan sebagai "membeli pada harga tertentu dan menjual pada harga yang tidak pasti, sehingga menanggung resiko perasi".

Abad ke-18
pada abad ke-18, seseorang yang mempunyai modal dibedakan dari orang membutuhkan modal. Dengan perkataan lain, pengusaha dibedakan dari penyedia modal (yang sekarang dikenal sebagai pemodal ventura). Di antara alasan pembedaan ini adalah industrialisasi yang terjadi diseluruh dunia. Banyaknya penemuan yang berkembang selama periode ini adalah hasil dari dunia yang tengah berubah, seperti kasus penemuan Eli Whiney dan Thomas Edison. Baik Whitney maupun Edison tengah mengembangkan sebuah teknologi baru dan tidak dapat membiayai sendiri 

No comments:
Write komentar